Meretas Paradoks Kopi
March 31, 2026Setiap memikmati secangkir kopi, ada kemungkinan kita turut membantu menyelamatkan hutan. Atau bisa juga malah merusaknya. Kopi mungkin buka...
Setiap memikmati secangkir kopi, ada kemungkinan kita turut membantu menyelamatkan hutan. Atau bisa juga malah merusaknya. Kopi mungkin bukan sekadar benda netral, tetapi merupakan pilihan sikap. Bahkan, bisa jadi sebuah idealisme yang pada akhirnya membentuk identitas kita.
Jika kita
bertanya tentang apa yang paling langka di alam semesta, jawabannya bukan
emas, berlian, atau mineral berharga lainnya. Profesor Brian Cox, seorang
astrofisikawan asal Inggris, menyebut kayu sebagai barang paling langka di alam
semesta–setidaknya sebelum ditemukan
kehidupan lain yang menyerupai kita di luar planet Bumi. Fakta ini menakjubkan
dan mengundang perenungan bagi kita.
Jika sebuah roket membawa kita terbang
ke luar angkasa untuk melihat Bumi dari sana, sepanjang daratan garis
khatulistiwa tampak paling hijau. Ini menandakan sebagai kawasan yang paling
kaya keanekaragaman hayati di seantero planet. Bahkan, sejauh ini di seluruh semesta raya. Hutan-hutan membentang dengan
kayu-kayu raksasa, satwa berkeliaran, dan segala kehidupan di dalamnya. Alam
tropis kita tidak hanya kaya, namun juga kompleks. Kerusakan sebagian komponen bisa memusnahkan sebagian lainnya, termasuk kita sendiri.
Kopi,
minuman yang menjaga mata kita terjaga dan memberi energi neuron-neuron di otak
untuk menjalankan proses akal budi, ironisnya merupakan paradoks. Ia bisa
menjadi "monster" perusak hutan dan alam milik kita melalui praktik penanaman yang
serampangan–pembudidayaan yang membabat hutan. Tetapi di sisi lain, juga berpotensi
menjadi agen penyelamat untuk membangun kembali hutan-hutan melalui praktik wanatani,
di mana kopi menjadi bagian sistem lestari.
Hutan tidak
sekadar simpanan kekayaan berupa objek konkret (kayu, pangan, dan obat), tetapi
juga penyimpan database pengetahuan yang dikumpulkan nenek moyang. Sifatnya
akumulatif dan terus berkembang, melekat pada tradisi dan budaya kita. Artinya,
melestarikan fungsi hutan adalah merawat identitas kita sendiri.
Pilihan ada pada kita, seyogyanya memilih sisi kedua dari paradoks kopi tadi. Kita tumbuhkan kopi tanpa merusak hutan. Malahan, bukan tidak mungkin memperluasnya: membangun hutan-hutan baru.
-SH
*Foto: Sebuah rustic-shade grown coffee di hutan habitat lima jenis primata










